Andalan

NARASI TALENTA

IMG_0173 - Copy (2)

Permulaan ialah rahmat,

perjalanan ialah ketekunan,

dan akhir ialah berkat.

 

Setiap manusia memiliki talenta. Dari lahir ia telah memilikinya dan bertumbuh seiring usia. Kita menyebut sang pemberi talenta itu Tuhan atau Allah. Dia Mahakuasa. Darinya segala yang ada berasal. Kepadanya segala yang ada berziarah dan menuju. Sebab Dia adalah awal sekaligus akhir (Alfa dan Omega).

Talenta ditaburkan Tuhan dalam diri setiap insan. Bagai benih, ia ditaruh dalam diri kita masing-masing. Talenta itu kemudian bertumbuh, berkembang, dan akhirnya berbuah. Butuh proses panjang untuk menghasilkan buah. Bahkan kadang sampai menitikkan air mata.

Talenta itu anugerah. Anugerah itu Indah. Sang Pemberinya ialah sumber keindahan. Itu yang bisa kita katakan pada akhirnya. Yang memilikinya ialah mereka yang dipanggil, dipercayakan, kemudian diberi. Siapakah mereka itu? Semua yang terlahir ke dunia. Mereka yang mau dibentuk oleh Allah. Tidak memandang latar belakangnya. Tidak pernah memandang suku, agama ras, dan budaya. Sebab di hadapan Tuhan, semua orang itu baik dan sama. Maka Tuhan sangat sedih kala manusia memandang sesamanya kafir, najis.

Ketika talenta dilihat sebagai anugerah, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk menguburkannya dalam tanah atau menyimpan di dasar petinya. Semua yang dipanggil, dipercayakan dan diberi harus mengembangkan dan menghasilkan buahnya. Untuk siapa? Untuk dirinya dan kesejahteraan sesamanya.

Tentang bagaimana kita mengembangkannya, ada narasi besar yang harus dimengerti. Narasi pertama ialah pergi. Pergi hendak mengatakan “Keluar dari kenyamanan diri sendiri atau zona nyaman.” Hanya dengan pergi kita akan mengerti apa yang ada di luar diri kita. Dengan pergi kita mampu melihat sesama dan mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain.

Pergi juga mengatakan ketotalan. Kalau kita pergi tetapi hati kita masih terikat, kita belum sungguh-sungguh pergi. Pemazmur mengatakan, “Bawalah hatimu di mana pun kamu berada.” Di bagian lain mengecam keterikatan pada harta duniawi. “Hati yang terikat tidak akan menemukan kasih Tuhan yang tak terbatas, sebab di mana hartamu berada, di situ hatimu berada.” Dengan demikian, pergi mengandaikan “seluruhnya.” Sebab kalau tidak demikian, mungkin kita tidak akan pernah menghasilkan apapun bahkan kita menjadi hamba yang gagal. Gagal karena ia tidak mampu mengembangkan talenta yang diterimanya.

Narasi kedua ialah dekat dengan sang Pemberi talenta. Soren Aabay Kierkegaard pernah mengatakan, “Hidup hanya akan dimengerti ke belakang, tetapi harus dijalankan ke depan.” Hemat saya Kiekegaard benar. Kita harus melihat ke masa lalu dan terus belajar darinya. Jangan pernah melupakan bahkan mengutuk masa lalu yang suram. Ingat Tuhan pun menyejarah. Ia hadir dalam sejarah hidup kita, sebab Dia hadir dalam sejarah umat manusia dari awal mula sampai selama-lamanya.

Dekat dengan sang pemberi talenta menyatakan sesuatu yang urgent. Dalam mengembangkan talenta, kita harus berjalan bersama. Atau kita selalu mendekatkan diri dengan berdialog dengan Tuhan dalam doa.

            Akhirnya Talenta adalah berkat. Usaha kita dalam mengembangkannya mutlak diperlukan. Tetapi kita tidak sendirian. Ada narasi-narasi besar yang membantu kita untuk melangkah. Setiap narasi butuh permulaan. Permulaan itu rahmat. Kemudian di perjalanan membutuhkan ketekunan dan akhir dari semuanya ialah berkat.

Iklan

Estetika Gadamer

1.1           Pendahuluan

Estetika adalah sebuah istilah yang tidak asing bagi kita. Kata ini berasal dari kata Yunani, aisthetika yang artinya hal-hal yang dapat dicerap dengan panca indra.[1] Para filsuf kemudian mengembangkan istilah ini. Plato misalnya, mengartikan keindahan dalam dua dunia yakni dunia ide yang bersifat sederhana dan dunia nyata dalam benda-benda material.[2] Aristoteles, murid Plato, mengatakan sebaliknya. Bagi Aristoteles karya seni adalah tiruan yang mengandung nilai-nilai universal yang berlaku pada masa dan tempat manapun.[3]

Aleksander Gotlieb kemudian mempopulerkan istilah ini sehingga dikenal luas saat ini. Menurut Gotlieb, estetika adalah bidang pemikiran yang menyentuh hal-hal keindahan, karya seni, seni, dan hal yang berkaitan dengannya.[4] Seiring perkembangan zaman, muncul para filosof yang mendalami bidang ini. Pengertian tentang estetika pun mengalami perluasan. Jauh setelah Aristoteles, pandangan tentang keindahan mengalami perubahan pada munculnya pandangan filsafat modern yang menekankan akal budi atau rasio. Rasionalisme membawa konsekuensi yang besar yakni keindahan diperdebatkan dalam karakternya yang di luar yang ilmiah, menekankan perasaan dan intuisi.

1.2  Gadamer dan Konteks Estetikanya

Gegap gempita filsafat kontemporer sering melupakan figur seperti Hans-Georg Gadamer (1900-2002) yang mungkin filsuf tertua usianya yang pernah hidup.[5] Sesungguhnya dia sendiri lebih menyukai tidak berbicara tentang dirinya. Baginya seorang filosof hanya dikenal dalam kemampuan dan kesanggupannya berfilsafat.

Hans-Georg Gadamer (selanjutnya disebut Gadamer) juga berbicara tentang estetika. Pandangan Gadamer tentang estetika memang terkait dengan bidang hermeneutika[6] yang digelutnya. Namun hal itu bukan berarti gagasan estetikanya muncul untuk memperjelas pemikiran hermeneutiknya. Gadamer pada kenyataannya juga memiliki gagasan estetis yang secara khusus ditulisnya dalam karya, The Relevance of The Beautiful and Other Essays. Dalam karyanya itu, Gadamer memperdalam pembahasan mengenai seni dan karya seni. Latar belakang pemikirannya mengenai seni tidak terlepas dari konteks kulturalnya sebagai seorang pemikir Jerman yang memiliki tradisi filosofis yang panjang. Sebelum sampai pada pembahasan tentang seni menurut Gadamer, kita perlu mengetahui hubungan antara hermeneutika dan estetika dalam filsafat Gadamer. Ini penting karena seni dalam perspektif Gadamer memiliki hubungan yang erat dengan hermeneutika.

1.3  Hubungan Estetika dan Hermeneutika

1.3.1       Jangkauan Hermeneutika yang Komprehensif

Gadamer menegaskan bahwa hermeneutika mempunyai perspektif yang komprehensif atau menyeluruh dalam segenap bidang manusia. Dengan demikian, estetika pun tercakup di dalamnya, yang secara khusus bersentuhan dengan pengalaman keindahan. Karya seni yang merupakan objek dari estetika terkait dengan hermeneutika sebab karya seni mengandung makna. Makna tersebut perlu dipahami untuk mengungkapkan suatu kebenaran yang terkandung di dalamnya. Karya seni menyampaikan sesuatu kepada kita untuk kita pahami. Pemahaman itu membutuhkan hermeneutika yang mempunyai peran dalam penafsiran.

1.3.2       Peran Hermeneutika bagi Karya Seni

Hermeneutika mempunyai tugas yang berkaitan dengan seni. Gadamer mendasarkan tugas hermeneutik tersebut dari pemikiran Schleiermacher dan Hegel. Gadamer menyebut tugas hermeneutika bagi karya seni ialah sebagai rekonstruksi dan integrasi.[7] Schleiermacher berada pada sisi rekonstruksi seni sedangkan Hegel berada pada posisi integrasi seni.

Rekonstruksi seni ialah usaha untuk mengetahui konteks orisinil sebuah karya seni. Sebuah karya seni mempunyai tujuan orisinilnya ketika dibuat oleh seniman. Bagi Schleiermacher, karya seni kehilangan sesuatu yang bermakna jika ia terlepas dari konteks orisinilnya. Hal ini ada kaitannya dengan dunia tempat karya seni tersebut memiliki kaitannnya yakni bahwa karya seni tersebut milik dunia. Sebab itu karya seni tidak bisa lepas dari asal usul, konteks dan tujuan karya seni. Namun Gadamer mengkritik pemikiran Schleirmecher yang hendak mengembalikan makna asli karya seni sebagaimana aslinya. Hal ini disebabkan karena konteks masa kini tidaklah sama dengan konteks awal karya seni itu diciptakan. Mempertahankan makna asli karya seni akan membawa makna yang asing bagi masa kini.

Integrasi seni ialah upaya menghubungkan masa lalu sebuah karya dan menarik maknanya pada masa kini. Menurut Hegel, kebenaran secara utuh sebagaimana kodrat esensial dari roh historis tidak terdiri dari penyusunan kembali masa lampau melainkan di dalam mediasi yang mendalam dengan masa kini.[8] Mediasi yang mendalam oleh Hegel disejajarkan dengan kebenaran dari seni itu sendiri. Pandangan Hegel ini menjadi acuan bagi Gadamer untuk memandang peran hermeneutika sebagai interaksi, masa lampau dengan masa kini. Gadamer tidak serta merta memutuskan hubungan dengan masa lampau sebagai aspek historis dari suatu karya seni, namun ia tidak berhenti pada aspek historis belaka.

1.4 Kritik atas Filsafat Modern

Filsafat modern telah membawa perubahan besar bagi kehidupan manusia. Semangat modernitas ditampakkan dalam tiga ciri yaitu subjektivitas, kritik dan kemajuan.[9] Subjektivitas dalam filsafat modern menggiring pandangan manusia untuk berpaling pada dirinya sebagai titik fokus. Otonomi manusia dikedepankan. Semangat modernitas ini membawa gairah dalam mengembangkan berbagai bidang, tidak hanya menyentuh bidang-bidang penalaran spekulatif juga terarah secara praktis dalam kehidupan sehari-hari.

Jasa filsafat modern memang sangat berharga dalam membebaskan manusia untuk mulai berani berpikir sendiri dan mengungkapkan gagasan-gagasan dan penemuan-penemuan baru yang bermanfaat bagi keberlangsungan hidup manusia. Namun di sisi lain, filsafat modern menjunjung tinggi nalar manusia dalam menjelaskan segala sesuatu. Kebenaran pada akhirnya dirumuskan oleh otoritas nalar manusia dengan berbagai penjelasan yang objektif dan universal. Kritik Gadamer terhadap filsafat modern terutama diarahkan pada rana epistemologi yaitu pada persoalan kebenaran. Kebenaran seolah-oleh terpaku pada kriteria yang dibangun ilmu pengetahuan alam.

1.4.1       Kritik atas Metode Ilmiah

Gadamer mempersoalkan bagaimana kriteria ilmu-ilmu alam terlalu dominan dalam menentukan kebenaran suatu hal. Dominasi ini tampak dalam penggunaan metode ilmiah dari ilmu-ilmu alam dalam bidang-bidang lain hingga penyelidikan tentang ilmu humaniora. Apa yang ditekankan oleh Gadamer dalam pandangannya tentang ilmu humaniora adalah bahwa fenomena tiap individu dengan keunikan dan kenyataan historisitasnya  tidak akan mampu diukur seluruhnya oleh ilmu alam yang ditetapkan secara baku dalam metode ilmiah.[10] Dalam pandangannya tentang metode ilmiah ini, Gadamer mengkritik pula upaya Wilhelm Dilthey yang berupaya mendirikan suatu metode khusus bagi ilmu humaniora. Gadamer dengan tegas mengatakan, metode dalam ilmu humaniora adalah bahwa ia tidak mempunyai metode.[11] Hal ini menyinggung persoalan estetika, mengingat estetika merupakan ruang lingkup ilmu humaniora.

 

1.4.2       Kritik atas Diferensiasi Estetika dan  Kesadaran Estetis

Dalam subjek pembahasan ini kita perlu kembali mengulas secara singkat teori Imanuel Kant tentang selera yang kemudian akan berpengaruh pada pandengan estetika. Kant menyebut selera sebagai hal yang sifatnya reflektif, artinya selera tidak memberikan pengetahuan tentang objek. Selera bekerja seperti indra yang bekerja tanpa pengetahuan dari nalar. Selera ini terkait dengan pertimbangan estetik kita terhadap karya seni. Dengan demikian karya seni tidak lagi menyingkapkan kebenaran bagi kita tetapi hanya memberikan suatu kesenangan saat kita memandang dan menikmati sesutu yang indah.

Gadamer mengatakan bahwa pandangan Kant tentang pertimbangan estetik menegaskan suatu universalitas subjektif dari selera estetik yang di dalamnya tidak ada lagi pengetahuan akan objek yang dicerap.[12] Pandangan subjektif radikal Kantian tentang pertimbangan estetik menyangkut selera terhadap sesuatu yang indah mempunyai dampak signifikan dalam memandang suatu karya seni. Terjadi pemisaha kriteria kebenaran konseptual dan kebenaran estetika yang dibawah oleh ilmu alam. Dampaknya karya seni tidak memuat kebenaran apapun, karya seni hanya memberikan rasa kesenangan pada penikmatnya. Antara seni dan kenyataan terdapat perbedaan yaitu bahwa seni merupakan penampilan atau penampakan dari kenyataan. Dari sini Gadamer mengkritik adanya pembedaan seni dan realitas yang kemudian mengakitabatkan pemisahan antara seni dengan alam. Seni berbeda dengan realitas maka alam yang menjadi kerangka kerja menyeluruh terpisah dari seni. Seni mempunyai otonominya sendiri dan terpisah sama sekali dari realitas.

Gadamer melangkah pada apa yang disebut kesadaran estetis.[13] Kesadaran ini merupakan kemampuan manusia mengukur segala hal yang berhubungan dengan seni. Aspek kualitas merupakan bagian dari kesadaran untuk menilai apakah suatu objek memiliki nilai estetis atau tidak. Dengan kesadaran ini maka karya seni dan pengalaman estetik diperoleh dari proses abstraksi, sehingga karya seni menjadi karya seni murni. Konsekuensinya karya seni dipisahkan dari konteks karya seni itu berakar atau beasal. Pada gilirannya karya seni menjadi teralienasi dari pengalaman kehidupan yang menjadi asal usul karya itu. Inilah yang oleh Gadamer disebut diferensiasi estetis, yakni manakala kesadaran estetis memilah-milah mana hal yang estetis dan mana yang tidak serta mengeksklusi karya seni sebagai karya seni murni yang bersih dari unsur non estetik yang mengikuti karya seni itu.[14]

Gadamer memberikan suatu konsep yang berbeda dalam memandang karya seni yaitu non diferensiasi estetik. Gagasan ini bertujuan agar kita tidak membuat pemilahan-pemilahan saat kita memandang suatu karya seni, melainkan menerimanya sebagai suatu kebenaran. Kritik Gadamer mengisyaratkan pentingnya integrasi antara estetika dan kehidupan nyata. Karya seni harus dinikmati, digeluti, diciptakan dalam kaitannya dengan konteks kehidupan nyata.[15] Di sini aspek pengalaman menjadi penting dalam padangan Gadamer sebab pengalaman inilah yang melibatkan manusia dengan karya seni.[16] Pengalaman amat dekat dengan karya seni menjadi penting bagi transformasi kehidupan manusia itu sendiri, sebab karya seni membawa kebenaran yang tidak terelakan bagi manusia.

1.5 Aspek Ontologi Karya Seni

1.5.1 Estetika sebagai Sebuah Permainan

Permainan mendapat tempat penting dalam pemikiran Gadamer tentang estetika. Permainan adalah cara berada dari karya seni itu sendiri. Artinya permainan mesti dilihat terpisah dari maksud orang-orang yang bermain di dalamnya. Permainan memiliki aturannya sendiri yang mesti diikuti oleh para pemain. Karena itu permainan pertama-tama tidak dilihat sebagai aktivitas yang dilakukan oleh para pemain, melainkan karya yang keberadaannya mandiri. Permainan tetap ada terlepas dari apakah ia dimainkan atau tidak.[17] Dalam sebuah drama, misalnya. Kita tidak seddang melihat orang tertentu yang sedang bermain, tidak terpusat pada permainan atau terpusat pada penonton. Bagi Gadamer, semua itu lebur dan lumer dalam gerak tanpa henti yang tidak terikat pada sesuatu dan terlepas dari keseluruhan permainan. Seorang masuk dalam permainan memang melakukan suatu gerak, tetapi lebih dari sekedar bermain. Pemain itu sebenarnya membentuk dan dibentuk oleh gerakan itu.[18]  Demikian pula dengan karya seni. Kita tidak bisa menciutkan karya seni sebagai representasi atas dunia di luar karya maupun maksud seniman. Apa yang direpresentasikan karya seni adalah dirinya sendiri. Itulah sebabnya bagi Gadamer, estetika telah tersesat manakala karya seni dianggap sebagai representasi atas sesuatu yang lain. Dalam estetika menurut Gadamer, apa yang merepresentasikan dan direpresentasikan bukanlah hal yang terpisah melainkan dua hal yang menyatukan.[19]

 

1.5.2 Estetika sebagai Simbol

Hal pokok yang ada dalam suatu simbol ialah representasi. Simbol sendiri merepresentasikan suatu makna. Representasi tidak hanya hadir sebagai pengganti hal yang direpresentasikan melainkan apa yang direpresentasikan hadir dengan satu-satunya jalan yaitu melalui representasi. Gadamer mengambil seorang tokoh yang dipajang di balai kota atau di tempat ibadat. Dalam potret representasi, sebenarnya toko tersebut hadir juga di tempat tersebut dalam peran representasi. Karena itu karya seni tidaklah hadir sebagai alat atau sarana. Karya seni tidak mengacu pada sesuatu yang lain, sebab yang menjadi rujukan malahan ada dalam karya seni itu sendiri. Dari pemahaman ini, Gadamer mengatakan bahwa karya seni mempunyai karakter yang tidak tergantikan.[20]

Seni sebagai simbol pada gilirannya menuntut suatu pengenalan. Pengenalan tidak melulu menyinggung tindakan mengetahui sesuatu sebagai hal yang telah kita kenal. Pengenalan itu lebih mendalam sehingga kita mengetahui sesutu secara otentik dibandingkan saat kita pertama kali menjumpainya. Pengenalan menarik hal yang permanen dari hal yang sifatnya sementara. Hal inilah yang menjadi fungsi simbol dan simbolisasi bahasa seni. Setiap karya seni kemudian akan berbicara kepada kita ketika kita telah belajar menguraikan dan membacanya.

1.5.3       Estetika sebagai Festival

Gadamer juga mengangkat festival untuk menjelaskan pengalaman akan seni. Festival merupakan suatu perayaan yang di dalamnya setiap orang berpartsipasi. Dalam suatu festival, tidak ada pemisahan antara seorang dengan yang lain. Gadamer mengartikan festival sebagai pengalaman dari komunitas dan merepresentasikan komunitas dalam bentuknya yang paling sempurna.[21] Festival dirayakan sebagai suatu aktivitas intensional artinya bahwa kita berkumpul dalam perayaan itu untuk suatu hal. Intensi untuk berkumpul itulah yang menyatukan kita. Misalnya dalam perayaan gerejawi seperti saat misa hari minggu, perayaan Natal, Paskah, dan yang lainnya.

Seni dan karya seni perlu juga dihadirkan sebagai suatu festival yang merengkuh semua orang. Sebab itu, seni harus melampaui segala batas budaya. Seni bersifat universal dan terbuka bagi setiap orang dari budaya mana pun dan bebas dari status budaya dan komersialisasi budaya dalam kehidupan sosial.

1.6     Aspek Epistemologi Karya Seni

1.6.1 Konteks Kebenaran dalam Ontologi Seni

Gadamer yang berlatar belakang hermeneutika memberikan sumbangsih pemikiran pada rana estetika. Terutama penegasannya mengenai karya seni sebagai ungkapan kebenaran. Penegasan ini menjadi kritik Gadamer bagi filsafat modern yang diwakili Kant yang menolak metafisika. Penolakan Kant atas metafisika berujung pada penolakan dasar ontologis bagi estetika. Kant juga menolak adanya dasar pengetahuan yang diperoleh dari karya seni sebab fungsi seni hanyalah memberikan kesenangan. Pandangan Kant juga dengan sendirinya mengeksklusifkan seni dari rana epistemologi dan sekedar sebagai pemberi kesenangan.

Pandangan Gadamer tentang seni dapat dipahami pula dengan gagasan Tomas Aquinas tentang penghayatan estetis. Thomas menyebut tiga hal yang khas dalam pandangan estetis berkenaan dengan kemampuan akal manusia yakni integritas (keutuhan), proporsi (keteraturan, keseimbangan), dan claritas (kecemerlangan bentuk).[22] Dalam konteks pemikiran Thomas inilah kiranya pembelaan Gadamer atas kebenaran yang terkandung dalam karya seni dapat didasarkan.

1.6.2 Mimmesis: Kebenaran dalam Seni

Seni adalah mimesis atau tiruan yang merepresentasikan sesuatu. Namun seni tidak sekedar meniru karena seni tidak menangkap realitas seperti cermin menangkap bayangan seperti apa adanya. Apa yang tampak sebagai realitas dalam karya seni ialah ungkapan kultural yang khas. Gadamer menyatakan bahwa representasi artistik menunjukan kebenaran realitas, sebab realitas diartikan sebagai apa yang tidak berubah sedangkan seni memunculkan kebenaran realitas itu.[23]

Pendirian Gadamer tentang karya seni tersebut mengungkapkan kedudukan seni dalam menyingkapkan kebenaran yang ada dalam realitas sehari-hari. Seni tidak lagi dipandang sebagai sarana untuk memberikan kesenangan belaka. Seni mempunyai peran epistemologis untuk menjadi sumber pengetahuan kita. Pengalaman kita terhadap karya seni membuka kemungkinan-kemungkinan akan kebenaran yang menyentuh kita. Namun pengalaman itu tidaklah secara penuh menurut pengetahuan yang definitif. Pengalaman akan seni adalah pengalaman yang terus menerus yang pada gilirannya mengubah seseorang.

1.6.3 Transformasi dalam Pengalaman Akan Seni

Transformasi dalam karya seni memaksudkan suatu perubahan menuju kebenaran. Dalam contoh drama komedi dan tragedi nampak jelas bahwa kebenaran dalam permainan itu menyentuh diri kita sendiri yang sering kali juga mengalaminya dalam realitas kehidupan. Keterlibatan penuh dalam drama tersebut mampu mentransformasi diri kita untuk memahami kebenaran yang disuguhkan dalam karya seni.

1.7     Relevansi

Pemikiran Gadamer tentang estetika memberikan sumbangan dalam rana estetika, khususnya relasi antara seni dan manusia. Pandangan tentang pengalaman akan karya seni sebagai permainan, simbol, dan festival sangat dekat dengan kebudayaan Indonesia yang memiliki tiga karakter seni tersebut. Budaya di Indonesia telah memberikan gambaran betapa konsep pengalaman akan seni sungguh-sungguh menjadi bagian hidup masyarakat Indonesia sejak lampau. Seni dan hidup berjalin secara erat sebagai rangkaian yang tak terpisah satu dengan yang lainnya. Sebab itu pemikiran Gadamer seolah mengundang kita kembali untuk pulang kepada kondisi kultural kita yang telah memberi wacana pada pengalaman seni.

Biodata Penulis:

Nama: Benediktus Jonas

Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana, Malang, Jawa Timur

EMAL, 567beni@gmail.com

DAFTAR PUSTAKA

Gie, The Liang. Garis Besar Estetika, Yogyakarta: Penerbit Karya, 1976.

Gadamer, Hans-Georg. Truth and Metod, (translated by Garett Barden and John Cumming), New York: The crossroad Publishing Company, 1900.

Gusmao, Martino G. Da Silva. Hans-Georg Gadamer, Penggagas Filsafat Hermeneutika Modern yang Mengagungkan Tradisi, Yogyakarta: Kanisius, 2013.

Hardiman, F. Budi Filsafat Modern, Jakarta: Gramedia, 2004.

Hauskeller, Michael. Seni-Apa itu? Posisi Estetika dari Plato sampai Danton, Yogyakarta: Kanisius, 2015.

Muzir, Inyiak Ridwan. Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer, Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2008.

Surajana, Martin. Sejarah Estetika, Jakarta: Gang Kabel, 2016.

[1] The Liang Gie, Garis Besar Estetika, Yogyakarta: Penerbit Karya, 1976, hlm. 15.

[2] Michael Hauskeller, Seni-Apa itu? Posisi Estetika dari Plato sampai Danton, Yogyakarta: Kanisius, 2015, hlm 12-13.

[3] Ibid, hlm.15.

[4] Ibid.

[5] Martino G. Da Silva Gusmao, Hans-Georg Gadamer, Penggagas Filsafat Hermeneutika Modern yang Mengagungkan Tradisi, Yogyakarta: Kanisius, 2013, hlm. 1.

[6] Hermeneutika berasal dari kata bahasa Yunani, hermeneuein yang berarti menafsirkan. Kata ini oleh para filsuf diartikan sebagai proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti.

[7] Ibid., hlm. 86.

[8] Ibid.

[9] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern, Jakarta: Gramedia, 2004, hlm. 3.

[10] Inyiak Ridwan Muzir, Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer, Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2008, hlm. 69.

[11] Ibid., hlm 70.

[12] Martino G. Da Silva Gusmao, Op. Cit, hlm. 90.

[13] Hans-Georg Gadamer, Truth and Metod, (translated by Garett Barden and John Cumming), New York: The crossroad Publishing Company, 1900, hlm. 80.

[14] Ibid., hlm. 81.

[15] Ibid.

[16] Martino G. Da Silva Gusmao, hlm. 86.

[17] Martin Surajana, Sejarah Estetika, Jakarta: Gang Kabel, 2016, hlm. 709.

[18] Ibid.

[19] Ibid.

[20] Hans-George Gadamer, Truth and Metod, Op. Cit., hlm. 84.

[21] Ibid.

[22] Ibid., hlm. 87.

[23] Ibid.

Kecewa

 

Jujur, aku kecewa. Mungkin terlalu berharap. Tetapi tiada salahnya berharap. Seandainya saya tahu yang akan terjadi, aku tidak akan datang. Sebab masih ada hal penting yang aku lakukan, yakni mengikuti lomba lektor, di rumah. Perlombaan itu jauh lebih penting ketimbang aku menghabiskan waktu dalam perjalanan dan tidak terlaksana apa yang menjadi tujuan kedatanganku.

Aku tidak tahu pasti, pada siapa sebenarnya aku kecewa. Semua umat lingkungan yang menjadi tempat KKNku? Itu mungkin jawaban yang tepat. Tetapi siapa mereka, aku tidak bisa menjustifikasi beberapa atau pribadi tertentu. Sebab mereka sebuah lingkungan besar. Jadi aku bingung, kepada siapa aku merasa kecewa.

Pada Tuhan? Itu adalah jawaban yang lain. Seandainya Tuhan memberi tahu aku, yang akan terjadi, aku tidak akan datang. Aku kecewa sebab Tuhan membiarkan semuanya terjadi.

Aku akan berusaha melihat peristiwa ini sebagai pelajaran. Sebab mungkin Tuhan punya rencana. Aku harus mengalami semua ini. Aku diundang Tuhan untuk belajar dari pengalaman kemarin. Tuhan Yesus telah mengalaminya. Hari ini ia membuka hatiku bahwa niat yang baik belum tentu ditanggapi dengan serius bahkan tidak dianggap sama sekali.

Memang, pendalaman iman melalui merenungkan kitab suci bukan sebuah keharusan. Semua tergantung kerelaan. Bahkan kalau sedang sibuk, orang bisa saja tidak menghadirinya. Tetapi tentu memiliki konsekuensi yang berat. Dari pengalaman semalam, aku menarik beberapa kesimpulan yang bisa kuambil.

Pertama, orang Katolik sering tidak tahan terhadap godaan dan tantangan. Tantangan dan godaan dialami oleh semua manusia. Tantangan dan godaan tidak pernah memandang status. Jika ia dilekatkan dengan institusi agama, aku melihat fenomena tidak tahan godaan besar sekali melanda keluarga-keluarga Katolik, walau banyak orang Katolik yang hidupnya saleh dan kudus.

Alasan yang sangat potensial bagi kebanyakan orang Katolik yang tidak tahan tantangan dan godaan ialah tidak setia pada mendengarkan dan merenungkan sabda Tuhan. sabda Tuhan, bahkan tidak menjadi yang penting. Kebanyakan orang lebih mementingkan yang lahiriah, ketimbang yang batiniah. Akibatnya, orang tidak melihat iman sebagai jalan untuk hidup yang lebih baik. Maka ketika tantangan dan godaan itu datang, orang tidak memiliki pegangan untuk tetap bertahan.

Berbeda dengan orang Kristen dan Islam. Sudah sejak kecil mereka ditanami sikap untuk mencintai sabda Tuhan dalam kitab suci. Mereka bahkan menjadikan kitab suci sebagai senjata untuk menghadapi segala tantangan yang mereka hadapi. Mereka menjadikan kitab suci bahkan kebutuhan sehari-hari. Mereka sangat setia merenungkan dan membacanya.

Kedua, Tuhan sering ditempatkan pada nomor kesekian. Kemajuan dunia yang tidak bisa dibendung, tidak hanya membawa dampak positif bagi manusia. Dampak negatif yang dihasilkannya juga banyak. Misalnya hidup hedonis, dan mental instan. Ketika iman ditempakan pada nomor bukan pertama, sudah bisa terbaca bahwa dampak negatif kemajuan dunia ini dilihat sebagai peluang. Peluang untuk bersaing dan tidak memperhatikan hidup batin. Hasilnya bisa terbaca, orang sering kali lupa akan Tuhan dan menganggap Tuhan itu urusan akhirat, tunggu tua dulu baru mencari Tuhan. menyedihkan, tetapi itulah kenyataanya.

Ketiga, takut untuk berbagi pengalaman iman. Salah satu komentar yang diungkapkan ketua lingkungan semalam ialah orang jawa itu takut besharing pengalaman hidup mereka. Ada rasa sungkan dan minder, jangan-jangan salah, mungkin akan ditertawai, dan yang lainnya.

Beriman tanpa keterbukaan, mungkin bukan beriman yang baik. Ibaratnya seorang suami yang tidak terbuka pada istrinya, rumah tangga itu pada akhirnya pasti ambruk. Begitu juga dengan hidup beriman. Jika dengan sesama tidak ada saling keterbukaan, maka dengan Tuhan pun bisa dipastikan orang kesulitan untuk terbuka.

Takut dan malu, sebenarnya adalah hal yang sangat biasa. Semua orang akan mengalaminya. Tetapi jika itu menjadi senjata untuk membentengi diri agar tidak bergabung dengan sesama dalam pendalaman iman, hemat saya sudah mengarah pada sesuatu yang keliru. Ketidakterbukaan membuat orang sulit untuk mengerti orang lain. Dia hanya akan terkungkung dalam kebenarannya sendiri dan tidak akan menemukan kebenaran yang lebih luas melalu pengalaman orang-orang lain.

 

 

Rindu Terobati

 

Pernahkah kalian merindukan seseorang? Apakah ada yang tidak pernah merindu? Pertanyaan ini agaknya konyol. Semua orang pasti pernah merindu. Misalnya merindu sahabat, orang tua, kekasih, teman, keluarga, dan entah siap saja. Kukira tidak ada yang tidak pernah merindu. Sejauh ini, tak pernah kulihat.

Rindu adalah kodrat manusia. Semua orang yang mengaku dirinya manusia, pasti pernah merindu. Jika seorang menyangkal, kukira kita menyebut orang itu batu. Sebab jika babi atau anjing, itu keliru. Aku pernah melihat induk babi di kandang berontak, karena terpisah dengan anak-anaknya. Di lain kesempatan, aku melihat seekor anjing sedih karena anaknya hilang dicuri tukang kayu. Dua binatang ini cukup mewakili semua binatang. Bisa dikata, binatang pun merindu atau memiliki rasa rindu.

Aku kurang tahu dengan mereka yang bukan dilahirkan dari seorang ibu. Beberapa bulan lalu, aku mendapat kabar bahwa ada banyak tentara yang merupakan hasil kloning. Prosesnya berbeda dengan manusia normal. Mereka ini dirancang sedemikian rupa oleh beberapa dokter ahli sehingga menjadi manusia.

Entah, informasi ini benar atau tidak, biasanya mereka ini menjadi barisan depan saat perang. Motoh mereka demikian. Tidak pernah mengenal kata lelah dan menyerah. Musuh harus ditumpas sampai tuntas. Itu sedikit informasi yang aku dapat tentang manusia yang dikloning itu. Tentang mengapa, manusia-manusia ini sering luput dari pemberitaan media masa, tidak terlepas dari kerahasiaan para pencipta dan jumlah mereka yang sangat terbatas.

Aku tidak tahu dengan manusia model ini. Kecil kemungkinan mereka memiliki perasaan rindu. Mungkin mirip robot, dan hanya digerakan oleh manusia normal. Tetapi topik kita tentang human, bukan mereka. Mereka hanya pembanding dalam tulisan ini.

Sebagai manusia, tidak jarang aku merindu. Misalnya rindu seorang perempuan untuk menjadi pendamping hidup, rindu kehangatan dipeluk, dan rindu untuk berduaan dengan seorang perempuan. Kerinduan itu kadang tidak pernah kuminta. Tetapi ada saatnya ia datang dan menguasai diriku.

Tentu bukan hanya perempuan yang kurindukan. Sering aku rindu pada keluargaku. Orang tua, adik, kakak, dan keluarga besarku, juga kampung halamanku. Rasa rindu itu kadang membuat aku bahagia juga galau, kala mengingat masa kecilku besama keluarga di kampung halaman.

Sulit dilukiskan dengan kata-kata sebuah kerinduan. Hanya tampilah fisik yang bisa menunjukan hal itu. Apalagi jika kerinduan itu tidak terobati, kadang ingin selalu memuaskannya, walau dengan cara yang lain.

Hari ini kerinduaku terobati. Tanpa ada niat untuk menelfon keluarga, tiba-tiba aku di inbox oleh keluargaku dan akhirnya kami berbagi cerita lewat HP. Senang sekali rasanya ngobrol dengan orang tua setelah hampir setahun tidak pernah ngorol. Ada banyak kisah dan cerita mereka yang menyejukkan hati. Ada banyak kesuksesan, tetapi juga perjuangan yang belum tuntas.

Aku sangat senang bisa ngorol dengan Tiara adikku. Aku kaget karena ia akan mengikuti loma Bola Voli di Mukun. Ia menjadi salah satu utusan sekolahnya. Aku bahagia mendengar ceritanya. Ternyata sekarang ia sudah besar dan sudah bisa bermain Voly. Aku sangat rindu bisa berjumpa dengannya tahun depan.

Akhirnya aku sedikit menyimpulkan bahwa kerinduan itu kodrat. Salah satu kebutuhan manusia ialah dicintai dan dirindukan oleh orang lain. Kadang aku merasa kerinduan itu terobati dengan pengalaman tak diduga. Seperti hari ini, aku ngorol dengan keluargaku.

Menulis itu Menyenangkan

Menulis itu Menyenangkan

Salah satu kebahagiaanku dalam menulis ialah melihat tulisanku diterbitkan. Aku pernah melompat saat tulisanku dimuat di koran kompas. Itu terjadi beberapa bulan yang lalu. Sungguhan, pengalaman itu tidak bisa kulupakan. Bahkan ketika hari ini aku ditanya tentang saat aku merasa sangat bahagia, tidak ragu-ragu aku menyebut pengalaman saat tulisanku diterbitkan di koran kompas.

Kebahagiaan yang aku alami saat itu telah banyak mempengaruhi kehidupanku. Aku banyak mendapat pujian dari teman-teman, karena bakatku untuk menulis. Bukan hanya itu, pengalaman itu menjadi awal bagiku untuk tekun menulis dan komit-menku untuk menjadi seorang penulis semakin besar. Aku bersyukur pada Tuhan, hingga kini tulisanku telah banyak diterbitkan di berbagai media, entah cetak pun online.

Aku juga tidak ragu-ragu untuk bergabung dengan blog kompasiana. Kemampuanku semakin terasa, ke-tika setiap hari aku belajar menulis di blog ini. Betapa tidak, yang menulis di blog ini kebanyakan sudah menerbitkan buku. Tentang isi tulisan mereka, tak usah diragukan lagi. Seorang penulis di blog ini juga bercerita bahwa ia telah menulis 25 buku. Luar biasa. Aku pun ikut nimbrung di sana. Aku bangga bisa bergabung dan membaca tulisan-tulisan mereka.

Sudah 62 artikel yang aku kirim untuk dimuat di blog ini. Hingga kini pembacanya sudah 32 ribu lebih. Aku senang para pembaca tulisanku memberi komentar yang positif. Mereka sangat mengapresiasi semua yang mau menulis. Walau kadang, aku juga malu karena isi tulisanku kurang bagus. Tetapi justru aku terus belajar dan belajar untuk menulis yang baik dan benar.

Tidak hanya di blog kom-pasiana, saat ini aku telah membuat dua blog pribadi. Tulisan-tulisanku yang tidak kukirim di kompasiana, aku masukkan di blog pribadiku. Ada banyak keuntungan yang ku-dapat dari memiliki blog pribadi.

Pertama, aku bisa berkreasi secara bebas. Blog pribadi menjadi media untuk menuangkan ide-ide, opini, dan pengalaman keseharianku. Membaca ulang setiap tulisanku yang dimuat di blog memberi kepuasan tersendiri sebab, aku bisa mengekspresikan diri dengan lebih bebas.

Kedua, blog pribadi juga bisa menghubungkan aku dengan banyak orang. Di blog, selain berkreasi lebih bebas, tulisanku juga dibaca oleh orang lain. Walau jarang ada komentar atas tulisanku di sana, tetapi aku melihat ada yang membacanya dan jumlahnya terus meningkat.

Ketiga, menulis di blog, membantu aku untuk tekun membaca. Sampai hari ini aku selalu menyediakan waktu satu sampai dua jam sehari untuk membaca bacaan-bacaan yang bukan materi kuliah. Aku sangat terbantu dengan membaca banyak buku. Ada banyak hal yang aku ketahui dan dengan semakin banyak perbendaharaan kata yang kumiliki, aku tidak mengalami kesulitan berarti saat menulis.

Keempat, menulis di blog membantu aku menjadi orang yang sibuk. Sibuk yang kumaksud ialah tidak puas dengan rutinitas yang biasa. Aku selalu mencari kesi-bukan di luar aturan yang ada. Prinsipku, asal aku bisa belajar hal-hal baru dari kesibukan itu. Termasuk juga kesibukan yang kumaksud ialah hanya sibuk dengan diri sendiri. Merepotkan orang lain ternyata tiada gunannya.

Itulah kisahku tentang menjadi penulis. Menjadi penulis memang tidak sekali jadi. Butuh proses yang panjang. Setiap proses kadang melelahkan dan membosankan. Tetapi semua itu harus dilewati. Itulah tantangannya. Kalau itu bisa dilewati, aku yakin semuanya bisa mengalir dengan sendirinya.

Dan hari  ini tulisanku dimuat lagi. Ini ketiga kalinya tulisanku di muat di kompas. Aku senang dan bahagia. Terutama melihat wajahku terpampang di koran sekaliber kompas. Aku bahagia melihat nama kampusku di sana dan terutama argumenku. Pengalaman demi pengalaman melihat tulisanku diterbitkan membuatku semakin mengerti kalimat seorang penyair Rusia Konstantin Georgievich Paustovsky, “Menulis itu bukan-lah pekerjaan tangan atau kesibukan biasa. Menulis itu sebuah panggilan.”