Kecewa

 

Jujur, aku kecewa. Mungkin terlalu berharap. Tetapi tiada salahnya berharap. Seandainya saya tahu yang akan terjadi, aku tidak akan datang. Sebab masih ada hal penting yang aku lakukan, yakni mengikuti lomba lektor, di rumah. Perlombaan itu jauh lebih penting ketimbang aku menghabiskan waktu dalam perjalanan dan tidak terlaksana apa yang menjadi tujuan kedatanganku.

Aku tidak tahu pasti, pada siapa sebenarnya aku kecewa. Semua umat lingkungan yang menjadi tempat KKNku? Itu mungkin jawaban yang tepat. Tetapi siapa mereka, aku tidak bisa menjustifikasi beberapa atau pribadi tertentu. Sebab mereka sebuah lingkungan besar. Jadi aku bingung, kepada siapa aku merasa kecewa.

Pada Tuhan? Itu adalah jawaban yang lain. Seandainya Tuhan memberi tahu aku, yang akan terjadi, aku tidak akan datang. Aku kecewa sebab Tuhan membiarkan semuanya terjadi.

Aku akan berusaha melihat peristiwa ini sebagai pelajaran. Sebab mungkin Tuhan punya rencana. Aku harus mengalami semua ini. Aku diundang Tuhan untuk belajar dari pengalaman kemarin. Tuhan Yesus telah mengalaminya. Hari ini ia membuka hatiku bahwa niat yang baik belum tentu ditanggapi dengan serius bahkan tidak dianggap sama sekali.

Memang, pendalaman iman melalui merenungkan kitab suci bukan sebuah keharusan. Semua tergantung kerelaan. Bahkan kalau sedang sibuk, orang bisa saja tidak menghadirinya. Tetapi tentu memiliki konsekuensi yang berat. Dari pengalaman semalam, aku menarik beberapa kesimpulan yang bisa kuambil.

Pertama, orang Katolik sering tidak tahan terhadap godaan dan tantangan. Tantangan dan godaan dialami oleh semua manusia. Tantangan dan godaan tidak pernah memandang status. Jika ia dilekatkan dengan institusi agama, aku melihat fenomena tidak tahan godaan besar sekali melanda keluarga-keluarga Katolik, walau banyak orang Katolik yang hidupnya saleh dan kudus.

Alasan yang sangat potensial bagi kebanyakan orang Katolik yang tidak tahan tantangan dan godaan ialah tidak setia pada mendengarkan dan merenungkan sabda Tuhan. sabda Tuhan, bahkan tidak menjadi yang penting. Kebanyakan orang lebih mementingkan yang lahiriah, ketimbang yang batiniah. Akibatnya, orang tidak melihat iman sebagai jalan untuk hidup yang lebih baik. Maka ketika tantangan dan godaan itu datang, orang tidak memiliki pegangan untuk tetap bertahan.

Berbeda dengan orang Kristen dan Islam. Sudah sejak kecil mereka ditanami sikap untuk mencintai sabda Tuhan dalam kitab suci. Mereka bahkan menjadikan kitab suci sebagai senjata untuk menghadapi segala tantangan yang mereka hadapi. Mereka menjadikan kitab suci bahkan kebutuhan sehari-hari. Mereka sangat setia merenungkan dan membacanya.

Kedua, Tuhan sering ditempatkan pada nomor kesekian. Kemajuan dunia yang tidak bisa dibendung, tidak hanya membawa dampak positif bagi manusia. Dampak negatif yang dihasilkannya juga banyak. Misalnya hidup hedonis, dan mental instan. Ketika iman ditempakan pada nomor bukan pertama, sudah bisa terbaca bahwa dampak negatif kemajuan dunia ini dilihat sebagai peluang. Peluang untuk bersaing dan tidak memperhatikan hidup batin. Hasilnya bisa terbaca, orang sering kali lupa akan Tuhan dan menganggap Tuhan itu urusan akhirat, tunggu tua dulu baru mencari Tuhan. menyedihkan, tetapi itulah kenyataanya.

Ketiga, takut untuk berbagi pengalaman iman. Salah satu komentar yang diungkapkan ketua lingkungan semalam ialah orang jawa itu takut besharing pengalaman hidup mereka. Ada rasa sungkan dan minder, jangan-jangan salah, mungkin akan ditertawai, dan yang lainnya.

Beriman tanpa keterbukaan, mungkin bukan beriman yang baik. Ibaratnya seorang suami yang tidak terbuka pada istrinya, rumah tangga itu pada akhirnya pasti ambruk. Begitu juga dengan hidup beriman. Jika dengan sesama tidak ada saling keterbukaan, maka dengan Tuhan pun bisa dipastikan orang kesulitan untuk terbuka.

Takut dan malu, sebenarnya adalah hal yang sangat biasa. Semua orang akan mengalaminya. Tetapi jika itu menjadi senjata untuk membentengi diri agar tidak bergabung dengan sesama dalam pendalaman iman, hemat saya sudah mengarah pada sesuatu yang keliru. Ketidakterbukaan membuat orang sulit untuk mengerti orang lain. Dia hanya akan terkungkung dalam kebenarannya sendiri dan tidak akan menemukan kebenaran yang lebih luas melalu pengalaman orang-orang lain.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s