NARASI TALENTA

IMG_0173 - Copy (2)

Permulaan ialah rahmat,

perjalanan ialah ketekunan,

dan akhir ialah berkat.

 

Setiap manusia memiliki talenta. Dari lahir ia telah memilikinya dan bertumbuh seiring usia. Kita menyebut sang pemberi talenta itu Tuhan atau Allah. Dia Mahakuasa. Darinya segala yang ada berasal. Kepadanya segala yang ada berziarah dan menuju. Sebab Dia adalah awal sekaligus akhir (Alfa dan Omega).

Talenta ditaburkan Tuhan dalam diri setiap insan. Bagai benih, ia ditaruh dalam diri kita masing-masing. Talenta itu kemudian bertumbuh, berkembang, dan akhirnya berbuah. Butuh proses panjang untuk menghasilkan buah. Bahkan kadang sampai menitikkan air mata.

Talenta itu anugerah. Anugerah itu Indah. Sang Pemberinya ialah sumber keindahan. Itu yang bisa kita katakan pada akhirnya. Yang memilikinya ialah mereka yang dipanggil, dipercayakan, kemudian diberi. Siapakah mereka itu? Semua yang terlahir ke dunia. Mereka yang mau dibentuk oleh Allah. Tidak memandang latar belakangnya. Tidak pernah memandang suku, agama ras, dan budaya. Sebab di hadapan Tuhan, semua orang itu baik dan sama. Maka Tuhan sangat sedih kala manusia memandang sesamanya kafir, najis.

Ketika talenta dilihat sebagai anugerah, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk menguburkannya dalam tanah atau menyimpan di dasar petinya. Semua yang dipanggil, dipercayakan dan diberi harus mengembangkan dan menghasilkan buahnya. Untuk siapa? Untuk dirinya dan kesejahteraan sesamanya.

Tentang bagaimana kita mengembangkannya, ada narasi besar yang harus dimengerti. Narasi pertama ialah pergi. Pergi hendak mengatakan “Keluar dari kenyamanan diri sendiri atau zona nyaman.” Hanya dengan pergi kita akan mengerti apa yang ada di luar diri kita. Dengan pergi kita mampu melihat sesama dan mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain.

Pergi juga mengatakan ketotalan. Kalau kita pergi tetapi hati kita masih terikat, kita belum sungguh-sungguh pergi. Pemazmur mengatakan, “Bawalah hatimu di mana pun kamu berada.” Di bagian lain mengecam keterikatan pada harta duniawi. “Hati yang terikat tidak akan menemukan kasih Tuhan yang tak terbatas, sebab di mana hartamu berada, di situ hatimu berada.” Dengan demikian, pergi mengandaikan “seluruhnya.” Sebab kalau tidak demikian, mungkin kita tidak akan pernah menghasilkan apapun bahkan kita menjadi hamba yang gagal. Gagal karena ia tidak mampu mengembangkan talenta yang diterimanya.

Narasi kedua ialah dekat dengan sang Pemberi talenta. Soren Aabay Kierkegaard pernah mengatakan, “Hidup hanya akan dimengerti ke belakang, tetapi harus dijalankan ke depan.” Hemat saya Kiekegaard benar. Kita harus melihat ke masa lalu dan terus belajar darinya. Jangan pernah melupakan bahkan mengutuk masa lalu yang suram. Ingat Tuhan pun menyejarah. Ia hadir dalam sejarah hidup kita, sebab Dia hadir dalam sejarah umat manusia dari awal mula sampai selama-lamanya.

Dekat dengan sang pemberi talenta menyatakan sesuatu yang urgent. Dalam mengembangkan talenta, kita harus berjalan bersama. Atau kita selalu mendekatkan diri dengan berdialog dengan Tuhan dalam doa.

            Akhirnya Talenta adalah berkat. Usaha kita dalam mengembangkannya mutlak diperlukan. Tetapi kita tidak sendirian. Ada narasi-narasi besar yang membantu kita untuk melangkah. Setiap narasi butuh permulaan. Permulaan itu rahmat. Kemudian di perjalanan membutuhkan ketekunan dan akhir dari semuanya ialah berkat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s