Rindu Terobati

 

Pernahkah kalian merindukan seseorang? Apakah ada yang tidak pernah merindu? Pertanyaan ini agaknya konyol. Semua orang pasti pernah merindu. Misalnya merindu sahabat, orang tua, kekasih, teman, keluarga, dan entah siap saja. Kukira tidak ada yang tidak pernah merindu. Sejauh ini, tak pernah kulihat.

Rindu adalah kodrat manusia. Semua orang yang mengaku dirinya manusia, pasti pernah merindu. Jika seorang menyangkal, kukira kita menyebut orang itu batu. Sebab jika babi atau anjing, itu keliru. Aku pernah melihat induk babi di kandang berontak, karena terpisah dengan anak-anaknya. Di lain kesempatan, aku melihat seekor anjing sedih karena anaknya hilang dicuri tukang kayu. Dua binatang ini cukup mewakili semua binatang. Bisa dikata, binatang pun merindu atau memiliki rasa rindu.

Aku kurang tahu dengan mereka yang bukan dilahirkan dari seorang ibu. Beberapa bulan lalu, aku mendapat kabar bahwa ada banyak tentara yang merupakan hasil kloning. Prosesnya berbeda dengan manusia normal. Mereka ini dirancang sedemikian rupa oleh beberapa dokter ahli sehingga menjadi manusia.

Entah, informasi ini benar atau tidak, biasanya mereka ini menjadi barisan depan saat perang. Motoh mereka demikian. Tidak pernah mengenal kata lelah dan menyerah. Musuh harus ditumpas sampai tuntas. Itu sedikit informasi yang aku dapat tentang manusia yang dikloning itu. Tentang mengapa, manusia-manusia ini sering luput dari pemberitaan media masa, tidak terlepas dari kerahasiaan para pencipta dan jumlah mereka yang sangat terbatas.

Aku tidak tahu dengan manusia model ini. Kecil kemungkinan mereka memiliki perasaan rindu. Mungkin mirip robot, dan hanya digerakan oleh manusia normal. Tetapi topik kita tentang human, bukan mereka. Mereka hanya pembanding dalam tulisan ini.

Sebagai manusia, tidak jarang aku merindu. Misalnya rindu seorang perempuan untuk menjadi pendamping hidup, rindu kehangatan dipeluk, dan rindu untuk berduaan dengan seorang perempuan. Kerinduan itu kadang tidak pernah kuminta. Tetapi ada saatnya ia datang dan menguasai diriku.

Tentu bukan hanya perempuan yang kurindukan. Sering aku rindu pada keluargaku. Orang tua, adik, kakak, dan keluarga besarku, juga kampung halamanku. Rasa rindu itu kadang membuat aku bahagia juga galau, kala mengingat masa kecilku besama keluarga di kampung halaman.

Sulit dilukiskan dengan kata-kata sebuah kerinduan. Hanya tampilah fisik yang bisa menunjukan hal itu. Apalagi jika kerinduan itu tidak terobati, kadang ingin selalu memuaskannya, walau dengan cara yang lain.

Hari ini kerinduaku terobati. Tanpa ada niat untuk menelfon keluarga, tiba-tiba aku di inbox oleh keluargaku dan akhirnya kami berbagi cerita lewat HP. Senang sekali rasanya ngobrol dengan orang tua setelah hampir setahun tidak pernah ngorol. Ada banyak kisah dan cerita mereka yang menyejukkan hati. Ada banyak kesuksesan, tetapi juga perjuangan yang belum tuntas.

Aku sangat senang bisa ngorol dengan Tiara adikku. Aku kaget karena ia akan mengikuti loma Bola Voli di Mukun. Ia menjadi salah satu utusan sekolahnya. Aku bahagia mendengar ceritanya. Ternyata sekarang ia sudah besar dan sudah bisa bermain Voly. Aku sangat rindu bisa berjumpa dengannya tahun depan.

Akhirnya aku sedikit menyimpulkan bahwa kerinduan itu kodrat. Salah satu kebutuhan manusia ialah dicintai dan dirindukan oleh orang lain. Kadang aku merasa kerinduan itu terobati dengan pengalaman tak diduga. Seperti hari ini, aku ngorol dengan keluargaku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s